Ilmu Jiwa Kramadangsa

Ilmu Jiwa Kramadangsa

Oleh: Ki Ageng Suryomentaram

BAGIAN I
(Bagian pertama dan kedua dibawakan oleh Ki Pronowidigdo)

Adapun yang saya ceramahkan malam ini adalah llmu Jiwa Gambar Kramadangsa. Ilmu mengenai jiwa orang, dan jiwa adalah rasa. Rasa itu yang mendorong orang berbuat apa saja. Orang bertindak mencari air minum karena terdorong oleh rasa haus, bertindak mencari bantal untuk tidur karena terdorong oleh rasa kantuk dan seterusnya. Maka rasa itu menandai hidup orang. Kalau hanya ada badan saja tanpa rasa, disebut bangkai. Mempelajari tentang rasa adalah mempelajari tentang orang. Sedangkan kita sendiri pun orang. Jadi mempelajari tentang orang, dapat dikatakan mempelajari diri sendiri atau mengetahui diri sendiri (bhs. Jawa: pangawikan pribadi).

Diri sendiri yang manakah yang dipelajari? Ialah diri sendiri yang diberi dan memiliki nama khusus. Kalau namanya Krama, merasa aku si Krama, atau kalau namanya Suta, merasa aku si Suta. Rasa yang bergandengan dengan namanya itu, saya istilahkan "Kramadangsa". Kramadangsa ini yang menyahut bila namanya dipanggil orang. Rasa namanya sendiri atau Kramadangsa iniiah yang akan kita teliti. Penelitian itu tidak sukar apabila kita mau, karena rasa itu melekat pada diri kita setiap hari, hingga untuk menelitinya tidak perlu pergi jauh-jauh. Maka dalam mengikuti ceramah ini bila ada sebutan "Kramadangsa", gantilah dengan nama Anda masing-masing, untuk mencocokkan kebenaran uraian saya ini.

Kramadangsa ini menyatukan diri dengan segala rasa yang timbul dalam dirinya. Misalnya timbul rasa haus, Kramadangsa merasa "aku haus", atau yang haus adalah "aku". Jika timbul rasa kantuk, lapar, dirasakannya "aku ngantuk", "aku lapar" dan seterusnya. Kramadangsa inilah yang merasa beda dari semua orang lain di seluruh dunia. Tegasnya kecuali aku, orang lain diperlakukan sebagai "kamu".
Sekarang marilah kita mulai meneliti, bagaimana kelahiran dan perkembangan rasa Kramadangsa dalam diri kita masing-masing.
Ketika kita masih sebagai bayi, kita bertindak sebagai juru catat, yang mencatat segala hal yang berhubungan dengan diri kita. Misalkan sebagai bayi kita melihat sesuatu, mendengar sesuatu, menjilat dan merasakan sesuatu, sesuatu itu kita catat. Seperti saya melihat lampu ini, lantas saya mencatatnya.

Catatan lampu dan lampunya yang dicatat, adalah dua barang terpisah, yang tidak bersangkutan. Umpama lampu yang dicatat itu pecah, catatan lampu yang ada dalam diri saya, tidak turut pecah. Sebaliknya, bila saya tiba-tiba mati, catatan lampu yang ada dalam diri saya rusak, tapi lampu yang dicatat itu, tidak turut rusak.

Untuk melihat catatan-catatan itu harus memakai mata batin, tidak dapat memakai mata kepala. Seperti saya sekarang di Jakarta, dengan mata terpejam melalui mata batin, dapat melihat catatan rumah saya di Yogyakarta, jelas sekali.

Dengan perantara pancaindera, kita mencatat segala rupa penglihatan, suara, rasa dan sebagainya; yang berjuta-juta jumlahnya, tidak kunjung penuh. Maka isi catatan kita itu, lebih besar jumlahnya dari pada isi dunia. Karena rasa sendiri, yang tak ada di dunia luar, ada dalam catatan.

Pemisahan catatan dari hal yang dicatat sebagai berikut, misalnya saya berkata: "Kemarin saya minum air kelapa muda, segar rasanya." Pada waktu saya berkata itu, rasa segar sudah tidak ada, tapi saya dapat mengatakannya, karena melihat catatan rasa segar yang masih ada dalam ingatan saya.

Peranan kita sebagai juru catat ini, boleh dikatakan hidup dalam ukuran kesatu, seperti cara hidup tumbuh-tumbuhan. Pekerjaannya tidak lain hanya mencatat, dan bila berhenti mencatat, matilah juru catat itu. Hasil pekerjaan mencatat, ialah berupa bermacam-macam catatan yang berjuta-juta jumiahnya.

Catatan-catatan itu barang hidup, yang hidup dalam ukuran kedua, seperti kehidupan hewan. Maka sebagai barang hidup, catatan itu bila dapat makanan cukup, suburlah hidupnya, tapi bila kurang makanan ia menjadi kurus, kemudian mati. Makanan catatan-catatan itu berupa perhatian. Jika memperoleh perhatian besar, catatan-catatan itu hidup subur, tapi jika tidak dapat perhatian, catatan-catatan akan mati.

Sebagai contoh, kita kaum laki-laki, barangkali masih ingat bahwa di masa kanak-kanak kita suka bermain gundu, gasing, layang-layang dan sebagainya. Mengapa sekarang setelah dewasa kita tidak melakukannya lagi, padahal catatan permainan-permainan itu masih terdapat dalam ingatan kita? Karena catatan itu sudah lama tidak mendapat perhatian, sampai menjadi kurus dan akhirnya mati; maka sudah tidak menarik si Kramadangsa lagi.

Seperti halnya benda-benda hidup lain, catatan ini pun pada saat terakhir mengalami sekarat (ulmaut). Seperti lampu minyak yang habis minyaknya, pada saat terakhir menyala besar, lalu padam.

Tetapi kalau catatan masih hidup, ia masih menarik diri kita. Umpama catatan berjudi, yang masih hidup dalam ingatan saya, menggerakkan hati dan badan saya, ketika saya melihat orang-orang berjudi dalam suatu pesta. Walaupun mengalami kekalahan dan habis uang, saya telah bersumpah tidak akan berjudi lagi. Tetapi bila nanti memegang uang lagi dan melihat orang berjudi, saya segera mendekatinya untuk turut serta pula.

Jika catatan berjudi itu tidak diberi perhatian, ia akan menjadi kurus kemudian mati. Pada saat mendekati kematiannya, catatan itu mengalami sakarat (ulmaut), berwujud keinginan yang sangat besar untuk berjudi. Jika keinginan yang sangat besar ini pun tidak diperhatikan, matilah catatan itu.

Apabila catatan-catatan itu sudah cukup banyak jumiah dan jenisnya, barulah lahir rasa Kramadangsa. Yaitu rasa yang menyatukan diri dengan semua catatan-catatan, yang berjenis-jenis itu sebagai: harta-bendaku, keluargaku, bangsaku, golonganku, agamaku, ilmuku dan sebagainya. Rasa aku si Kramadangsa ini, bagaikan tali pengikat batang-batang lidi dari sebuah sapu lidi.
Kramadangsa ini pun barang hidup, yang hidup dalam ukuran ketiga, karena tindakannya dengan berpikir. Jadi Kramadangsa ini tukang pikir, memikirkan kebutuhan catatan-catatan di atas tadi.

Supaya jelas, di sini perlu saya ulangi mulai dari asal sampai terjadinya Kramadangsa.

Dimulai dari bayi yang baru lahir, sudah mencatat apa saja yang berhubungan dengan dirinya. Yang dari luar melalui pancaindra dan yang dari dalam melalui rasanya. Misalnya pada waktu lahir bayi itu diterangi dengan lampu, di waktu lampu padam, ia menangis. Disini bayi itu sudah membedakan terang dan gelap, hal itu telah tercatat dalam catatannya. Kemudian ia mencatat benda-benda di bawah cahaya terang. Ia pun mencatat rasa iapar yang timbul dalam dirinya dan rasa enak di waktu diberi air tetek ibunya.

Apabila bayi ini makin besar dan makin lengkap catatan-catatannya, ia pun dapat membedakan lelaki dan perempuan, dan mengenali mana ibunya dan yang bukan. Kemudian catatan-catatan itu menjadi dorongan bagi tindakan atau perbuatannya.

Kita orang dewasa pun bertindak atau berbuat terdorong oleh catatan. Misalnya di jalan kita melihat seorang wanita yang mirip dengan isteri kita. Kita tidak berani segera menegur, sebelum mencocokkan wanita itu dengan catatan isteri kita, yang ada dalam diri kita sendiri. Umpama bagian-bagian anggota badannya sama, tetapi rambut ubannya tidak sebanyak uban isteri kita, kita belum berani memanggil. Tetapi bila seluruh wujudnya sama dengan catatan kita, barulah kita bertindak menegur: "Isteriku, kamu hendak ke mana?"

Jadi dalam hal bayi tadi, apabila catatan-catatannya belum cukup dan belum lengkap, ia belum dapat membedakan benda-benda dan menghubungkan sebab dan akibat kejadian-kejadian, karena belum lahir rasa Kramadangsa. Oleh karenanya ia belum dapat memikir. Memikir ialah membedakan pohon waru dengan pohon pisang, menghubungkan sebab terjadinya gelas jatuh, yang mengakibatkan pecah. Setelah bayi itu agak besar, sebagai anak kecil, ia pun belum mengerti hal ruang dan waktu {zaman). Misalkan diperlihatkan bulan, ia berusaha memegangnya, dan bila diberi pakaian baru untuk dipakai pada hari raya, ia menangis minta segera dipakai sekarang juga.

Dapat dilihat lebih jelas lagi, bahwa rasa Kramadangsa anak tadi belum lahir, ialah tiap ia minta makan, ia tidak mengatakan: "Bu, aku minta makan," tetapi mengatakan namanya: "Bu, Din minta makan," misalkan nama anak itu si Din. Dan menyebut ibunya tidak sebagai "ibuku", tetapi sebagai "ibu si Din".

Bila anak itu sudah berusia tiga tahun ke atas, rasa Kramadangsanya sudah terbentuk, maka bila ia minta makan, dikatakannya "Bu, aku minta makan." la merasa, kecuali aku si Din, semua orang lain adalah bukan aku. Manakala ia melihat ibunya disandari oleh kakaknya, ia tidak membolehkannya. Karena ia merasa ibuku ialah milikku, bukan milik orang lain. Demikian seterusnya sehingga tua. banyak hal dan benda-benda dinyatakan sebagai miliknya.

Berjuta-juta catatan itu menggerombol, mendekati yang sama sifat coraknya dan menjauhi yang lain. Seperti ayam mendekati kalkun, menjauhi kambing.

Dalam gambar Kramadangsa di samping ini, ada sebelas kelompok catatan. Kesebelas kelompok catatan tersebut adalah:
1.   HARTA BENDA
2.   KEHORMATAN
3.   KEKUASAAN
4.   KELUARGA
5.   GOLONGAN
6.   KEBANGSAAN
7.   JENIS
8.   KEPANDAIAN
9.   KEBATINAN
10.   ILMU PENGETAHUAN
11.   RASA HIDUP

Perhatikan juga bahwa dari ukuran ketiga (kramadangsa) hendak menuju ke ukuran keempat (manusia tanpa ciri), terdapat simpang tiga. Untuk menuju ke ukuran keempat terdapat penghalang yang berupa PENDAPAT BENAR, yaitu rasa benar sendiri.

Pembagian ini dibuat dengan sengaja oleh Ki Ageng Suryomentaram. Orang lain dapat saja membaginya menurut kehendak masing-masing, tidak terikat. Di luar kelompok-kelompok di atas, masih banyak lagi catatan-catatan yang khusus, misalkan ada barang-barang baru, kapal udara dan sebagainya yang tercatat dalam catatan.

Catatan itu hidup dalam ukuran kedua, sama dengan kehidupan binatang. Misalnya seekor anjing sedang menyusui anak-anaknya, tiba-tiba orang datang mengganggunya. Menggonggonglah anjing itu, siap untuk menggigit. Bila merasa menang ia mengejar, dan bila merasa kalah ia lari. Langkah demikian itu bagi semua anjing adalah sama.

Bagi manusia, bila anaknya diganggu orang, ia pun segera marah, karena anak itu termasuk catatan "keluargaku". Tapi tindakannya tidak seperti anjing, dipikirkan cara melaksanakan amarahnya. Yaitu catatan "keluargaku" memerintah tukang pikirnya, si Kramadangsa. Cara memikir Kramadangsa bagi setiap orang berbeda-beda, disebabkan berbeda-bedanya catatan pengalaman masing-masing orang. Sedangkan memikir adalah melihat catatan-catatan itu. Misalnya si Suta, mengetahui bahwa anaknya di sekolah diganggu oleh anak lain. Ia lantas marah dan setelah berpikir kemudian diambilnya keputusan untuk melaporkan pada guru sekolah. Tapi bila hal tersebut terjadi pada si Naya, lain pula tindakannya, mungkin ia akan mengadukan pada polisi, Dan lain lagi bagi si Waru, mungkin didamaikan dengan orang tua anak yang mengganggu. Buah pikiran mereka berlainan karena catatan-catatan pengalaman mereka pun berlainan.

Demikian perbedaan hidup manusia dari binatang, walaupun reaksi rasanya sama, tetapi tindakannya berlainan. Karena manusia punya tukang memikir yaitu Kramadangsa, yang bertindak menurut perintah catatan-catatannya.

Jadi Kramadangsa ini dapat dikatakan, sebagai seorang buruh yang mengabdi pada sebelas orang majikan, yang berwujud sebelas kelompok catatan tadi.

 

BAGIAN II
Sebagai barang hidup, catatan-catatan itu ingin hidup subur, oleh karena jika diganggu, marah, jika dibantu, senang. Bagi binatang, jika diganggu ia akan menggigit, dan jika disayang, bergoyang-goyanglah ekornya.

Dalam kelompok catatan-catatan itu, yang kesatu ialah catatan "harta benda", yang berisi perumahan, tanah, hewan peliharaan, harta perhiasan mas intan dan sebagainya. Sifat catatan harta benda, sebagai "harta bendaku", ini tetap, yakni kalau diambil, dikurangi, akan marah, tetapi kalau dibantu, ditambah, akan tertawa girang.

Kelompok catatan kedua yaitu "kehormatan", berisi cara-cara memberi hormat seperti, bersalaman, berjongkok, menyembah, mengangguk, membongkok badan, dan sebagainya. Sifat catatan ini pun tetap, jika dihormat orang akan tertawa senang, tetapi jika tidak dihormat akan marah.

Kelompok catatan ketiga yaitu "kekuasaan", berisi hak atas segala hal atau milik yang dikuasainya; misalkan rumah yang dipagari, ini berarti segala yang ada di dalam lingkungan pagar ini, "aku"lah yang berkuasa. Sehingga jika orang-orang atau benda-benda di daiam lingkungan kekuasaannya itu diganggu, marahlah ia, tetapi jika dibantu, girang dan tertawalah ia. Misalnya ada orang masuk rumahnya tanpa permisi, tentu ia lantas marah, karena merasa dilanggar kekuasaannya.

Kelompok catatan keempat yaitu "keluarga", yang berisi catatan anakku, isteri/suamiku, keponakanku dan sebagainya. Sifatnya pun tetap sama, bila diganggu marah, bila dibantu ketawa.

Kelompok catatan kelima "golongan". Cara orang masuk dalam suatu golongan ada dua jalan, yang satu dengan sengaja, dan yang kedua tidak dengan sengaja. Misalnya orang melarat, ia tidak sengaja masuk golongan melarat, tetapi masyarakat atau orang lain mengatakannya, bahwa ia tergolong melarat. Demikian pula golongan kaya, priyayi, tani dan sebagainya, masuk ke dalam golongannya secara tidak sengaja. Tetapi orang masuk suatu golongan agama atau partai, kebanyakan dengan kemauannya sendiri atau dengan sengaja. Catatan golongan ini pun jika diganggu marah, dan jika dibantu ketawa.

Misalnya golongan saya "golongan kawruh jiwa" atau "kawruh rasa" ini. Kalau ada yang mencela: "Lihatlah golongan kawruh jiwa/rasa itu, kerjanya tidak lain hanya ngomong tentang rasa saja. Bila perutnya lapar akan makan rasa pula." Diejek demikian, saya pun marah. Tetapi bila dipuji orang: "Lihatlah, golongan kawruh jiwa/rasa ini, sudah mencapai ketenteraman, tidak mudah marah." Maka ketawalah saya karena dipuji.

Kelompok catatan keenam "bangsa". Pada umumnya, orang masuk salah satu golongan dengan tidak sengaja. Misalkan saya ini, tahu-tahu sudah menjadi bangsa Indonesia. Sifat catatan bangsa ini pun tetap, jika dicela, marah, dan jika dipuji, ketawa. Andaikata dicela: "Wah, kesaktian bangsa Indonesia hanya sebagai kelinci, yakni terus beranak banyak-banyak," saya segera marah. Tetapi jika dipuji: "Bangsa Indonesia itu halus budi bahasanya" saya segera ketawa.

Kelompok catatan ke tujuh "jenis". Pada waktu kita bertemu dengan seseorang, walaupun berlainan agama, bangsa dan golongan, tetapi merasa satu jenis, yaitu jenis manusia. Sifat catatan ini pun tetap, jika sesama jenisnya diganggu, marah dan jika dibantu, ketawa. Umpama ada seorang sedang beristirahat di atas pohon dalam hutan, sekonyong-konyong dilihatnya seorang lain dikejar oleh seekor babi hutan. Orang itu marah dan ingin membunuh binatang tersebut, karena orang yang dikejar binatang itu, adalah sejenis dengan dirinya, walaupun bukan sebangsa dan sekeluarga.

Kelompok catatan kedelapan "kepandaian", berisi kepandaian menari, pencak, membuat kecap dan kepandaian-kepandaian lainnya. Sifatnya pun tetap, jika dicela, marah dan jika dipuji, ketawa.

Kelompok catatan kesembilan "kebatinan", isinya bermacam-macam dan berbeda-beda pada setiap orang. Bahkan "kawruh jiwa" pun ada yang menamakannya kebatinan.

Kelompok catatan kesepuluh "ilmu pengetahuan", berisi pengetahuan membuat barang-barang seperti tikar, bom-atom dan lain-lain. Sifatnya tetap sama seperti diterangkan di atas.

Terakhir, kelompok catatan kesebelas "rasa hidup", berisi berbagai-bagai kenangan dan pengalaman yang ditimbulkan oleh rasa hidup. Jadi yang mendorong gerakan manusia, selain catatan-catatan tersebut di atas, ada lagi yaitu rasa hidup. Malahan rasa hidup ini yang mendorong gerakan barang hidup. Barang-barang hidup itu berwujud tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Mereka bergerak sendiri, tak digerakkan oleh barang lain. Barang yang digerakkan oleh barang lain, ialah barang tidak hidup.

Barang hidup bergerak dengan maksud untuk mencukupi dua macam kebutuhan hidupnya. Yaitu untuk melangsungkan hidup raga dan jenisnya. Hal ini adalah hukum alam yang tidak dapat disangkal. Misalnya pohon kelapa, bergerak untuk melangsungkan hidupnya. Setelah dewasa lalu berbunga dan berbuah. Buah itu setelah masak, jatuh ke tanah, kemudian tumbuh sebagai pohon kelapa muda. Dengan demikian bila pohon kelapa yang tua mati, dunia tidak kehabisan jenis pohon kelapa.

Demikian pula manusia yang bergerak, selain didorong oleh catatan, juga didorong oleh rasa hidup untuk melangsungkan hidup raga dan jenisnya. Syarat-syarat untuk melangsungkan hidup raganya ialah makan, pakaian dan tempat tinggal. Lain dari tiga hal itu, bukanlah syarat hidup raga. Sebab badan manusia kalah kuat dibandingkan dengan badan binatang.

Bagi hewan, untuk melangsungkan raganya hanya satu cara yaitu makan. Misalnya kambing, pada saat ia lahir, badannya dapat tahan panas, angin, hujan, tetapi manusia tidak tahan panas atau dingin, hingga perlu memakai pakaian. Sekalipun perutnya kenyang, kalau tidak berpakaian, lama kelamaan ia akan kurus, sakit lalu mati.

Kebutuhan ketiga ialah rumah tinggal. Sebab raga orang, setelah lelah bergerak, butuh istirahat atau tidur. Karena sekalipun kenyang dan berpakaian, tetapi kalau tidak dapat istirahat, ia akan kurus, sakit lalu mati. Dalam hal tidur, manusia pun kalah dengan burung. Burung jika mengantuk bisa tidur di cabang-cabang pohon, walaupun hujan turun dan petir sambar-menyambar. Tetapi manusia bila ingin tidur masih memerlukan tempat yang tidak kepanasan, kehujanan, keanginan, yaitu berupa rumah.

Barang-barang lain yang tidak merupakan syarat hidup, bukanlah kebutuhan hidup. Misalnya barang semacam gamelan, bukanlah kebutuhan hidup, sebab tanpa gamelan orang tetap hidup. Tetapi orang sering salah anggapan, bahwa barang-barang yang bukan kebutuhan hidup dianggapnya sebagai kebutuhan hidup. Dan ini menimbulkan kesusahan dalam mempergunakan. Misalnya seorang laki-laki menganggap sepeda motor sebagai kebutuhan hidup, dan seorang perempuan menganggap perhiasan kalung dan giwang sebagai kebutuhan hidup. Bila mereka terpaksa sampai menjual barang-barang itu, malulah mereka, sehingga tidak berani ke luar rumah. Tetapi jika mereka dapat menganggap barang-barangnya itu sebagai barang kelebihan, sehingga bila terpaksa dijual, tidak menimbulkan malu.

Gerak manusia untuk melangsungkan jenisnya pun tidak dapat dihindarkan. Sama halnya dengan kebutuhan makan untuk melangsungkan raganya. Saudara-saudara dipersilakan mengingat-ingat pengalaman sewaktu kanak-kanak. Anak lelaki suka main gundu, gasing, sedangkan anak perempuan suka msin gateng (permainan anak Jawa, menyebar dan meraup biji-biji sawo), main manik-manik dan sebagainya. Kemudian bila sudah dewasa, berganti permainannya. Anak lelaki itu mengganti gundu atau gasingnya yang biasa dengan yang bisa tertawa. Dan anak perempuan yang sudah menjadi remaja, mengganti gateng dan manik-manik yang biasa dengan yang dapat tersenyum. Masa perubahan tadi dapat dinamakan masa birahi. Dari manakah datangnya rasa birahi itu? Tidak dapat diketahui, kecuali tahu-tahu sudah ada, tidak dapat ditolak. Bahkan pada diri saya yang sudah tua, ompong, kadang-kadang masih timbul birahi. Maka para jejaka dan gadis yang sama birahi, kejar-mengejar untuk mencukupi kebutuhannya, yang tidak dapat dicegah. Kalaupun orang berusaha mencegahnya, ini sama dengan mencegah orang lapar tidak boleh makan.

Jadi yang mendorong gerak itu ialah rasa-hidup dan catatan-catatan. Maka rasa-hidup dan catatan-catatan itu adalah bahan adonan Kramadangsa, atau diri-sendiri. Jika bahan adonan itu dipisahkan, hilanglah Kramadangsa. Seperti air teh dalam gelas di depan saya ini. Apabila adonan yang terdiri dari daun teh, air dan gula dipisahkan, air teh ini tidak ada lagi.

Rasa-hidup dan catatan rasa-hidup itu, mendorong gerak manusia. Misalnya saudara, biasa setiap pukul tujuh pagi minum kopi, Pada suatu hari saudara lupa atau tidak sempat melakukan kebiasaan minum kopi itu, sehingga pada waktu pukul sembilan pagi, kepala merasa pusing. Kemudian ingat bahwa pagi itu belum minum kopi, lalu bertindak mencari minuman kopi. Tindakan ini terdorong oleh catatan minum kopi dalam diri-sendiri. Tetapi tatkala pukul dua siang hari, merasa lapar, ia lalu mencari makanan. Tindakan ini terdorong oleh rasa-hidup. Jadi dorongan dari rasa-hidup dan dari catatan rasa-hidup, adalah dua hal yang tidak sama.

Sebagai contoh, orang lapar bertindak mencari makanan, ini terdorong oleh rasa-hidup. Tetapi ketika melihat tak ada bakmi pada hidangan yang disajikan isterinya di atas meja, urunglah ia makan. Tindakan ini terdorong oleh catatan rasa-hidup. Bagi anak kecil yang belum ada catatan bakmi, bila merasa lapar lalu makan apa saja yang diberikan. Demikian orang ditarik dan didorong oleh berbagai-bagai catatan yang sering bertentangan, sehingga menimbulkan kepusingan. Tetapi rasa-hidup yang hanya butuh untuk mencukupi kelangsungan hidupnya, mendorong orang bila ia lapar, untuk makan makanan apa saja dan makanan itu tentu terasa lezat.

Kramadangsa sebagai pengikat dan pemilik catatan-catatan, menilai catatan-catatan itu tidak sama rata. Pada umumnya yang bernilai paling tinggi, ialah catatan harta benda, kehormatan, kekuasaan (bhs. Jawa: semat, drajat, kramat). Penilaian ketiga macam catatan tersebut oleh masing-masing Kramadangsa, juga berbeda-beda. Yang satu menilai harta-benda nomor satu, kehormatan nomor dua, kekuasaan nomor tiga. Yang lain menilai kehormatan nomor satu, kekuasaan nomor dua, harta-benda nomor tiga. Yang lain lagi mempunyai urutan penilaian yang lain pula.

Catatan yang dianggap terpenting itu, makin lama mencengkeram Kramadangsa. Kramadangsa yang dicengkeram oleh salah satu catatan, tindakannya mengabaikan catatan-catatan lain dan diri-sendiri. Misalkan catatan harta-benda yang mencengkeram Kramadangsa, setiap tindakannya pasti ditujukan untuk menambah kekayaannya. Ibaratnya kata sepatah, tindak selangkah, jika tidak menambah kekayaan, tidak akan dilakukannya. Pernah saya melihat seorang kaya yang tercengkeram catatan harta-benda, bila makan puas dengan gudangan mentah (campuran sayur mentah dengan sambal kelapa), bila memasak, mencari sampah tetangganya untuk bahan bakar. Bila nanti mencari menantu, tujuannya pun untuk menambah kekayaan. Sehingga diterimanya pinangan seorang laki-laki yang sudah berusia delapan puluh tahun, untuk gadisnya yang baru berusia enam belas tahun. Bahkan makin hebat cengkeraman catatan tadi, sehingga menyatukan diri dengan harta-bendanya, "harta-bendaku ialah aku". Pada waktu ia diserbu penggedor (perampok), dia membela harta-bendanya mati-matian, sehingga mengorbankan jiwa-raganya.

Peristiwa semacam itu banyak terjadi pada masa geger-perang yang lalu. Andaikata ia tidak mati, tetapi gagal mempertahankan harta-bendanya hingga rudin/bangkrut, orang kaya yang tercengkeram catatan harta-benda itu lalu menjadi malas hidupnya, sebab memikirkan harta-bendanya yang telah amblas. Rasanya, meskipun aku bekerja seratus tahun lagi, tidak mungkin jumiah harta-bendaku yang hilang itu kembali. Orang itu takut hidup akan tetapi takut pula mati. Lama-kelamaan ia malas makan, malas tidur dan malas bernafas, akhirnya menderita TBC atau sakit jiwa. Menderita TBC itu seolah-olah bunuh diri secara lamban. Kalau ia menggantung diri atau mencebur diri ke dalam sumur, maka ia membunuh diri secara cepat.

Karena masing-masing catatan itu minta diperhatikan dan dipentingkan, maka sering timbul pertengkaran, antara catatan yang satu dengan yang lain, yang membuat si Kramadangsa sebagai buruhnya, menjadi kebingungan. Misalkan di kala ia menghadapi anaknya yang menghambur-hamburkan uangnya, maka bingunglah Kramadangsa, karena yang menghamburkan uangnya ialah "anakku" yang harus dipelihara, dididik, disenangkan. Di pihak lain, yang dihamburkan ialah "hartaku" yang harus diamankan dan diperbanyak jumlahnya.

Semakin hebat cengkeraman salah satu catatan, maka kepentingan catatan lainnya siabaikan, membuat Kramadangsa bertindak tanpa menggunakan pikiran, sehingga ia bertindak laksana hewan saja. Misalnya seorang laki-laki, tercengkeram hebat oleh catatan "keluargaku". Suatu ketika ia pulang ke rumah dan melihat sang isteri berbuat serong dengan laki-laki lain. Tanpa pikir panjang lagi, dicabut pisau dan dibunuhlah laki-laki yang menggendak isterinya itu. Kemudian ketika ia meringkuk dalam penjara, sebagai hukuman atas perbuatannya, catatan-catatan lain mengeroyok dirinya atau Kramadangsanya. Sebagai majikan, catatan-catatan itu menyesalkan perbuatan buruhnya: "Hai Kramadangsa, sekarang kamu berada dalam penjara, lalu siapakah yang akan mengurus sapimu, anak-anakmu? Bahkan bila isterimu bergendak lagi, mana kau tahu?"

Jadi kesimpulannya, dalam diri kita ini terdapat juru catat, yang menghasilkan berbagai-bagai catatan, yang menggerombol menjadi sebelas kelompok. Kelompok-kelompok catatan ini melahirkan Kramadangsa, yaitu rasa aku dengan namanya sendiri. Kramadangsa ini tukang memikir, yang memikirkan kebutuhan catatan-catatan di atas. Dengan kata lain, Kramadangsa sebagai seorang buruh dari sebelas majikan.
 

Mari berkomentar

CAPTCHA Image
Reload Image